Welcome to Rahmat Documents

Terima kasih anda telah mengunjungi blog saya!
Semoga info yang ada Bermanfaat bagi anda





KLIK disiNI JUga yah!!!!!

Rabu, 07 Oktober 2009

Enam Jam Berjalan Kaki untuk Capai Desa Korban Gempa


JAMBI, KOMPAS.com-Distribusi bantuan logistik bagi 110 keluarga korban gempa di Desa Renah Kemumu, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Jambi, tersendat. Topografi menuju desa yang berada dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat tersebut sangat curam, dan kondisi jalan longsor, sehingga logistik harus dibawa dengan berjalan kaki selama enam jam.

Hal itu mengakibatkan banyak bantuan menumpuk di Kantor Kecamatan Jangkat. Kendaraan roda empat biasa tidak dapat mencapai desa karena topografi menuju desa sangat curam pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

Menurut Arif Munandar, Koordinator Posko Bersama Penanggulangan Bencana Sipil Jambi, saat ini ada 92 rumah rusak dan 20 rumah ambruk di Desa Renah Kemumu akibat gempa Jambi berkekuatan 7,0 skala richter pada Jumat (2/10) lalu. Gempa juga mengakibatkan 20 warga setempat terluka.

Warga yang terluka harus berjalan kaki sepanjang 14 kilometer atau selama enam jam untuk mencapai desa tetangga, Tanjung Kasri. Di sanalah tim medis yang dikirim oleh Pemerintah Kabupaten Merangin baru dapat memberi upaya pengobatan bagi mereka.

Selain korban luka, sebanyak 579 siswa belum dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar karena kondisi sekolah yang rusak. Listrik juga masih padam, karena pembangkit listrik tenaga mikro hidro yang dibangun di sana juga rusak akibat gempa.

"Desa ini nyaris terisolasi, dan masih sangat minim bantuan. Kalaupun ada, bantuan belum bisa didistribusikan secara lancar karena relawan sulit mengakses desa tersebut. Bantuan jadi menumpuk di kantor kecamatan," ujar Arif, Selasa (6/10).

Selasa kemarin, sejumlah bantuan berupa terpal, selimut, dan makanan, mulai didistribusikan oleh relawan dari kelompok pecinta alam. Mereka beriringan berjalan kaki mengangkut bantuan menuju Renah Kemumu. "Harus lebih banyak lagi orang yang terlibat untuk membantu distribusi logistik," lanjutnya.

Pascagempa, sejumlah warga setempat juga mulai menderita penyakit gatal-gatal, diare, dan gangguan pernapasan. Pasalnya, masyarakat harus tidur di lapangan terbuka hanya dengan lindungan terpal. Jumlah terpal yang tersedia pun belum mencukupi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

harap anda mengisi komentar