Welcome to Rahmat Documents

Terima kasih anda telah mengunjungi blog saya!
Semoga info yang ada Bermanfaat bagi anda





KLIK disiNI JUga yah!!!!!

Senin, 26 Oktober 2009

Sejarah Pembinaan Anak Berbakat di dunia dan di Indonesia

Masalah anak berbakat telah lama menjadi perhatian masyarakat dalam budaya mans pun. Dengan mengetahui sejarah pembinaan anak bnerbakat dapat diketahui pula hal-hal yang dilakukan orang sejak zaman dahulu terhadap anak berbakat tersebut. Catalan sejarah tentang keberbakatan oleh Reni- Akbar-Hawadi (2002) diambil dari berbagai sumber: Shertzer Bruce (1960), Hildreth (1966), Laycock (1979), Davis & Rimm (1989) serta Colangelo dan Davis (1991) sebagai
berikut:
1. Periode Abad ke-18 dan Sebelumnya
Bangsa Cina berpedoman pada ajaran Confucius (500 SM) yang menekankan pendidikan harus diberikan pada seloruh anak dalam segala lapisan tanpa memandang perbedaan kelas sosial. Anak-anak tersebut harus dididik berbeda sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Anak-anak berbakat intelektual telah dihargai tinggi. Mereka yang dengan kemampuan luar biasa (prodigies) yang berasal dah segala lapisan sosial dikirim kekerajaan untuk dilatih dan dikembangkan lebih lanjut, sesuai dengan bakat yang dimiliki. Saat itu bangsa Cina telah menerima adanya keragaman bakat, pentingnya kemampuan membaca, kemampuan kepemimpinan, kemampuan imigrasi, kemampuan membaca cepat, kemampuan ingatan, kemampuan berpikir dan kepekaan Perceptual.
Bangsa cina juga telah menyadari bahwa kemampuan anak berbakat intelektual tidak akan berkembang penuh jika tidak diberikan pendidikan khusus. Dorongan diberikan karena mereka meyakini bahwa sokongan, motivasi merupakan hat yang dianggap penting bagi anak yang dianggap lebih. Pendidikan bagi anak berbakat tidak saja untuk memenuhi kebutuhan dirinya tetapi juga untuk kepentingan kerajaan, baik karier di universitas maupun untuk menempati posisi yang bagus di kerajaan.
Demikian pula di Jepang pada pedode Tokugawa (1604), anak-anak desa yang miskin diberikan pelajaran untuk mampu bersikap setia, patuh, rendah hati dan tekun. Adapun anak-anak samurai dididik bidang studi konfusius klassik, seni, sejarah, komposisi, kaligrafi, nilai, moral dan etika. Akan tetapi, baik anak dari masyarakat yang kebanyakan maupun anak samurai yang berbakat, sama¬sama akan memperoleh pendidikan yang khusus (Anderson, 1975, dikutip Colange, 1991).
Bangsa Sparta di Yunani yang menekankan keterampilan militer merupakan hat yang sangat be-harga bagi anak laki-laki. Sejak lahir telah dilakukan seleksi dan, pada usia tujuh tahun anak lakHaki dididik dan dilatih untuk menguasai seni temper dan seni perang. Jadi keberbakatan di sini diartikan sebagai keterampilan-keterampilan bertarung dan kepentingan militer (Meyer, 1965 dalam Colangelo, 1991).
Pada bangsa Yunani, khususnya di kalangan menengah ke alas, anak laki¬laki di sekolahkan untuk dapat membaca, menulis, berhRung, sejarah, seni dan kebugaran fisik. Setelah anak meningkat besar, guru-guru profesional dipanggil ke rumah untuk memberikan bimbingan aricmatica, logika, retorika, politik, tats bahasa, budaya umum dan keterampilan berdebat.
Dalam buku . nya yang berjudul Republic, Plato memaparkan pandangannya tersendiri dalam tentang anak berbakat intelektual. Memurut plato ada tiga jenis manusia yaitu jenis emas, perak, dan jenis perunggu. Setiap jenis mempunyai perantersendiri dalam masyarakat yang berbeda satu dengan yang lain. Jenis manusia emas adalah jenis manusia unggul, yang mempunyai kelebihan ketimbang jenis lainnya sehingga dikatakan oleh Plato anak-anak dari emas ini sangat memedukan pendidikan khusus clan amat diperlukan oleh negara untuk menduduki posisi yang penting. Plato menyebutkan bahwa kemampuan lebih yang dimiliki seseorang adalah suatu gift, yakni karunia dari Tuhan yang tidak boleh disia-siakan dan karena itu periu diperhatikan khusus. Dengan menyebut sebagai gift, Plato ingin menunjukkan bahwa manusia jenis emas dapat dilahirkan dari orang tea yang berjenis Perak atau berjenis perunggu. Jadi gift bukan yang didapat dari keturunan. Oleh karena itu, menurut Plato untuk menyeleksi seseorang agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, faktor inteligensi dan stamina fisik lebih diutamakan dadpada status sosial.
Periode Renaisanse di Eropa (tahun 1300-tahun 1700) kita ketahui menghasilkan kesenian, arsitektur dan buku-buku yang luar biasa indahnya. Pemenntah dan masyarakat saat itu telah membedkan penghargaan kepada orang-orang yang berbakat dan kreatif. Orang-orang tersebut antara lain Michael Angelo, Leonardo da Vinci, Baccacio, Berhini dan Dante.
Demikian Pula pada abad ke-15 sampai ke-19, Oleh Sultan Mahmet dari kerajaan Ottoman-Turki. Dad sekolah kerajaan di pusat ibu kola yang disebut The Palace School di Konstantinopel, setiap tahun menyelenggarakan seleksi terhadap ratusan pemuda yang berusia 10 tahun sampai 14 tahun. Pemuda dengan kategon yang paling gagah, paling pandai dan, paling menjanjikan diantara pemuda sebayanya. Disantero di keajaan selanjutnya akan dididik selama 12 tahun, sampai 14 tahun lamanya. Mereka yang berpotensi kursi jabatan yang tinggi dalam pemerintahan.
Pada awal abad ke-18 Thomas Jefferson dari Amerika Serikat mengajukan gagasan dalam pendidikan yaitu Diffusion of Education, yang menunjukkan pada pelayanan pendidikan yang berbeda bagi setiap individu, sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Gagasan tersebut dilandasi oleh pemikirannya bahwa seluruh manusia senarusnya memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan bakat-bakat mereka yang tidak sama (DeHaan dan havighurst, 1961). Dengan gagasan ini, Jefferson mengusulkan pada kongres suatu pemyataan legislatif yang beoudul Bills of the More Geberal Diffusion of Knowlegde, yang tujuannya menyediakan dana bagi generasi muds Amerika yang dianggap berbakat untuk mendapatkan pendidikan sampai universitas.
2. Periode Abadke--19
Pada abad ke-19 dunia ilmu pengetahuan berkembang pesat. Banyak penelitian dil2kukan untuk mngetahui siapakah manusia sesungguhnya. Manusia dilihat dari berbagai sudut Pandang dan salad satunya adalah upaya untuk melihat kemampuan manusia
Dalam kaitannya dengan keberbakatan, masalah hangat yang diperten-tangkan menyangkut apakah keberbakatan tersebut merupakan suatu hal yang diperoleh secara turun temurun ataukah sesuatu yang dibentuk oleh lingkungan. Charles Darwin (1859) dianggap pakar yang memulai debat tiada henti, dalam bukunya yng berjudul The Origin of The Species. Premis dasar Darwin membuat kejutan pada zamannya dan membawa dampak sosial. Menurut Darwin, seluruh spesies tunduk dan patuh pada hukum alam di dalam waktu geologis. Ada seleksi alamiah dan yang unggul adalah yang bertahan.
Menurut Gallon, inteligensi adalah fungsi dad persepsi yang berkaitan dengan inderawi seseorang, seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan waktu reaksi. Galton meyakini bahwa satu-satunya informasi yang sampai ke kita berkaitan dengan peristiwa luar yang tampil melalui inderawi kita bahwa semakin jelas penginderaan kita, maka semakin berbeda, semakin lugs putusan, dan kecerdasan yang dapat dilakukan (dalam Eby dan Smutny, 1990). Untuk itu konsep Galton tentang inteligensi berhubungan erat dengan tes inderawi tersebut.
Berdasarkan pandangan tersebut Gallon berpendapat bahwa faktor hereditas merupakan faktor utama dalam menentukan kemampuan intelektual seseorang. Hasil penelitian telah dipublikasikan yang berjudul Hereditary Genius pada tahun 1880. Di samping panclangannya mengenai faktor hereditas, Galton juga berpendapat bahwa keberbakatan terdiri clad banyak bidang seperti kemampuan musik, kemampuan atletik dan kemampuan menulis. Cin-ciri mental ini diturunkan dan bukan didapatkan dad pengaruh lingkungan (Howley, Pandarvis dan Pandarvis, 1990). Penelitian Galton dianggap penelitian yang signifikan yang berkaitan dengan intelegensi clan tes intelegensi, dan juga merupakan penstiwa penting di dalam perkembangan sejarah ilmiah anak berbakat intelektual pada abad ke-19. Ada satu pandangan Galton yang cukup menank mengenai faktor non intelektual bagi keberhasilan seseorang yang bukan semata-mata diperoleh can faktor keturunan saja. Bagi Galton, kejeniusan merupakan kemampuan alami yang luar biasa, yang diperoleh dad kombinasi sifat-sifat yang meliputi., kapasitas intelektual, semangat tinggi, dan days bekerja. Di samping hal di alas, studi yang dilakukan Gallon pada orang-orang yang berkr-mampuan luar biasa dengan mencoba memahami cars kerja fungsi mental mereka, sehingga menghasilkangagasan yang cemedang-, dianggap pula sebagai bagian dad upaya untuk memahami kreativitas (Guilford, 1968).
Di samping Galton, peristiwa kedua bagi perkImbangan sejarah ilmiah anak berbakat intelektual pada abad ke-19 adalah penelitian yang dilakukan oleh Alfred Binet dan T. Simon (Davis clan Rimm, 1985). Tahun 1890-aq di Paris, Binet dan Simon diminta oleh pernerintah Perancis untuk mengidentifikasi anak-anak yang tidak mengikuti pelajaran di kelas biasa. Binet clan Simon kemudian menciptakan alai tes untuk mengukur kemampuan mental anak. Tes tersebut berupa skala dalam 30 tugas praktik yang diurut sesuai dengan derajat kesulitan tugas. Skala Binet-Simon meliputi tugas-tugas seperti melihat dengan satu mata, membuka bungkus penmen dan memakannya, mengikat tali sepatu, mengingat dan menyebutkan digit dan kalimat. Dengan tugas-tugas dalam tes tersebut dapat diketahui bahwa konsepsi Binet untuk intelegensi dapat digunakan pada berbagai fungsi mental, seperti attensi, memos, clan diskriminasi yang disertai kemampuan pengqmbi!an keputusan praktis (Fancher, 1985 dikutip dalam Eby & Smutny, 1990 dalam Reni Akbar-Hawadu, 2002). Hasil eksperimen ini, Binet mampu membandingkan jawaban-jawaban yang tidak diketahui dalam skalanya dan menunjukkan apakah subjek tersebut tergolong normal ataukah bodoh dalam intelegensinya.
Berdasarkan konsep yang dikembangkannya, Binet meyakini bahwa pemberian pendidikan atau latihan yang tepat akan membuat seseorang dapat menye:esaikan tugasnya dan meningkatkan usia mentalnya. Selanjutnya, is menguraikan bahwa kemampuan mental adalah fungsi dad proses penilaian dan fungsi yang bersifat umum. Kedua hal tersebut dapat dipengaruhi melalui proses pendidikan (Eby & Smutny, 1990). Dengan pandangan ini, Alfred Binet merupakan orang pertama yang menangkis pemyataan Gallon dengan menyatakanfaktor lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi kemampuan intelektual seseorang. Bagi Binet, kecerclasan adalah hasil dari pendidikan (1990). Melalui studi yang dilakukan oleh Binet dapat dikatakan bahwa kontnbusi Binet bagi ilmu pengetahuan anak berbakat intelektual adalah: (1) dibuatnya skala clan tes yang dapat membedakan antara siswa normal dan siswa bodoh di sekolah-sekolah dan (2) dikembangkannya konsep usia mental, yang menunjukkan apakah seseorang anak berada di atas atau di bawah usia kalendernya.
Dalam perkembangan selanjutnya oleh James McKeen Cattail (1980-an) dan Golddard (1910) dari Amerika, dapat ditunjukkan bahwa tes Binet clan Simon dapat digunakan untuk pengukuran anak normal clan anak di atas normal (Davis & Rimm, 1985).
3. Periode Abad ke- 20 ke Atas
Catatan sejarah yang memonjol pada abad ke-20 adalah adanya studi yang dilakukan oleh Lewis Terman clan kawan-kawan selama lebih kurang 40 tahun (Terman & Oden, 1959 dikutip dari Feldhusen, Baska & Seely, 1989). Studi longitudinal Terman dianggap meletakkan pengertian bagi dasar-dasar ilmiah keberbakatan serta meratakan jalan bagi upaya-upaya praktis untuk mengidentifikasi anak berbakat intelektual di sekolah. Studi longitudinal Terman dan kawan-kawan diawali tahun 1921, terhadap 1.528 anak berbakat intelektual (851 anak laki-laki clan 677 anak perempuan) berusia 12, tahun yang mempunyai IQ 140 ke atas. Untuk kepeduan studi tersebut, Terman melakukan modifikasi skala Binet dan Simon sehingga digunakan untuk membedakan antara anak bodoh clan anak pintar. Oleh karena itu, Terman dianggap, sebagai prang pertama yang bertanggung jawab dalam penggunaan skala Binet di Amerika (Kathena,1992)
Penggunaan tes intelegensi dalam studi longitudinal Terman sebagai upaya untuk mengenali anak berbakat intelektual dianggap sebagai kontribusi yang unik. Terman berhasil melakukan penelitian longitudinal yang komprehensif dengan menggambarkan perilaku clan prestasi anak berbakat intelektual sejak masa kanak-kanak sampai usia bays. Mengingat jasanya dalam perkembangan anak berbakat intelektual tersebut, Terman disebut sebagai Father of Gifted Children. Studi longitudinal tersebut tidak saja dilakukan oleh Terman sendiri pada tahun 1929, 1950, clan 1955. tetapi setelah Terman meninggal pun (tahun 1959), studi longitudinal masih tetap dilangsungkan. Dari studi longitudinal Terman didapatkan catatan penting tentang adanya faktor kemauan dan motivasi (Kathena, 1992).
Gitudinal Terman, periode abad ke-20 ditandai dengan munculnya gerakan terakhir kreativitas yang diperkenalkan oleh Guilford dan Torrance di tahun 1950-an dan tahun 1960-an. Menurut Kathena (1992), gerakan terakhir ini semakin menguatkan kita untuk mengerti tentang anak berbakat intelektual. Mengutip Gowan (1978a), Kathena menyebutkan bahwa studi mengenai anak berbakat intelektual yang dipelopori oleh Terman (1922) dan perkembangan teori kreativitas yang dipelopori oleh Guilford (1950) dan Torrance (1960) tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang terpisah dan berdiri sendiri (Kathena, 1992). Beberapa penelitian anak berbakat intelektual pada tahun 1950- an yang dapat disebutkan dilakukan oleh Havighurst, Slivers, dan DeHaan (1955); Hollingworth, (1926, 1942); Passow, Goldberg, Tannenbaum, dan French (1955) serta Witty (1951), dapat mempeduas pemahaman kita tentang anak berbakat yang tinggi keberbakatannya, dan konsep keberbakatan dalam arti lugs sebagai upaya dalam pendidikan anak berbakat intelektual (Feldhusen, 1989).
Dalam filsafat kehidupan di Indonesia yang tercermin di daTam sistem pendidikannya amat ditekankan betapa penting berbagai kemampuar, manusiadimekarkan sehingga menjadi makhluk individu yang mandiri. Tetapi sekaligus Selain itu sejak tahun 1974 pemerintah telah menyediakan beasiswa bagi anak dituntut pengakuan terhadap perannya di masyarakat sebagai makhluk sosial.
Salah satu pengkajian terhadap pemikiran ini adalah suatu proyek pengembangan pendidikan anak berbakat oleh Badan Penelitian dan Pengembangan pendidikan dan Kebudayaan Depdikbud, tahun 1982 – 1985. Bertolak dad GBHN Pekta IV (1983 – 1988), yang menyatakan secara tugas bahwa luar biasa, maka dikaji suatu "pilot project" di Jakarta tahun 1980, dengan bermula dari identifikasi dan seleksi anak berbakat. Empat puluh Sekolah Dasar yang menjadi sampel identifikasi anak berbakat, yang diikuti dengan identifikasi terhadap belasan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas (tahun 1982).
Proses identifikasi ini bertahap dua, yaitu:
1) penjaringan umum dengan tujuan merijaring 20% - 25% anak berbaka dari populasi Sekolah, kemudian untuk disanng lagi lebih cermat lagi. Penjaringan beranjak dari nominasi oleh guru mata pelajaran , nilai vapor dalam beberapa mata pelajaran dan tes inteligensi umum.
2) Proses seleksi, yang didasarkan atas baterai tes inteligensi dan kreativitas, serta skala pedlaku siswa, yang hares diiisi oleh guru dan tes hasil belajar.
Sangat disayangkan, seluruh kegiatan ini terhenti dan ditunda karena alasan finansial, setelah sejumlah kurang lebih 42 orang anak berbakat pads tahun 1986 dikiri-n ke luar neged untuk belajar mancapai gelar kesarjanaan. Sementara itu Badan pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) jugs mengirim sejumlah (kurang lebih 100 orang anak berbakat) ke luar negeh, untuk mencapai kesarjanaan. Hampir 80% anak berbakat tersebut kini sudah kembali ke Tanah air dengan sukses meraih kesarjanaannya. yang berkemampuan unggul, namun tidak memiliki kemampuan ekonomis yang melanjutkan pelajarannya. Namun sayang sekali, dad sampel anak yang terakhir disebut ini, meskipun kriteria yang ditetapkan bagus, ternyata dalam implementasinya tidak menjaring dengan cermat keberbakatannya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

harap anda mengisi komentar