Welcome to Rahmat Documents

Terima kasih anda telah mengunjungi blog saya!
Semoga info yang ada Bermanfaat bagi anda





KLIK disiNI JUga yah!!!!!

Sabtu, 08 Agustus 2009

Sistematika Filsafat Pendidikan Pancasila

Sistematika Filsafat Pendidikan Pancasila

A. Sistematika Filsafat Pancasila
1. Bidang Ontologi
Pokok-pokok Ontology Pancasila terutama :
a. Asas dan sumber ada (eksistensi) kemestaan ialah Tuhan Yang Maha Esa.
b. Ada alam semesta (makrokosmos) sebgai ada tidak terbatas
c. Adanya Subyek pribadi manusia, individual, nasional, dan umat manusia
d. Eksistensi tata budaya, sebagai perwujudan martabat dan potensi manusia yang unggul (makhluk utama)
e. Eksistensi subyek manusia mandiri selalu dengan motivasi luhur untuk melaksanakan potensi-potensi martabatnya (rohani jasmani) demi keyakinan dan cita-citanya (=bermoral luhur dan berprestasi)
f. Eksistensi unik pribadi manusia ialah kemampuan untuk menyadari eksistensi diri sendiri, sesame manusia dan alam bahkan eksistensi hokum alam, hokum moral, dan eksistensi Tuhan, yang semua eksistensi “membatasi” eksistensi pribadi manusia.
g. Wujud pengalaman, penghayatan dan jangkauan potensi manusia atas antar hubungan eksistensi yang fungsional antara realitas a;am semesta, subyek manusia dengan nilai-nilai sosio-budaya dan eksistensi Negara bangsa.
h. Subyek manusia dalam eksistensinya sadar bahwa eksistensinya berada dalam kebersamaan sejajar dan horizontal secara interdependensi yakni sesama manusia
i. Kesadaran eksistensi manusia saling pengertian dan hormat-menghormati

2. Bidang Epistemologi
Prinsip-prinsip epistemology Pancasila terutama:
a. Pribadi manusia adalah subyek yang secara potensial dan aktif berkesadaran tahu atas eksistensi diri (subyek), eksistensi dunia (lingkungan, obyek); bahkan juga sadar dan tahu bila di suatu ruangan dan waktu “tidak ada” apa-apa (kecuali ruang dan waktu itu sendiri)
b. Proses terbentuknya pengetahuan manusia adalah hasil kerjasama atau produk hubungan fungsional subyek dengan lingkungannya; jadi potensi dasar dengan factor kondisi lingkungan yang memadai akan membentuk pengetahuan
c. Sumber pengetahuan sebenarnya adalah alam semesta; baik wujud alam (realitas) maupun sifat dan hokum yang inherent di dalamnya (hukum alam)
d. Proses pembentukan pengetahuan melalui lembaga pendidikan secara edukatif lebih sederhana
e. Pengetahuan manusia, baik jenis maupun tingkatannya dapat dibedakan secara berjenjang sebagai berikut : tingkat pengetahuan indera (umum), ilmiah, filosofis dan religius
f. Ilmu pengetahuan baik sebagai perbedaharaan dan prestasi manusia individual maupun sebagai karya dan budaya umat manusia merupakan pula kualitas dan derajat atau martabat kepribadian dan kemanusiaan, terutama dalam pengalaman atau dayagunanya di dalam kehidupan
g. Kesadaran dan pengetahuan manusia tentang alam semesta raya dan metafisika adalah pengetahuan ilmiah (kosmologi, falak) dan dunia filosofis bahkan religius secara terpadu
h. Konstruksi pengalaman dan pengetahuan manusia keseluruhan ini yang secara hirarkis merupakan pengetahuan yang lebih daripada hanya empiris, rasional, dan religius saja; melainkan kutuhan kesadaran yang kaya (bervariasi jenis, bentuk, sifat dan tingkatannya)
i. Martabat kepribadian manusia karena sifat dan potensinya yang unik dan superior, manusia mampu pula secra kreatif dan imaginative menjangkau sesuatu yang metafisis jauh dibalik realitas lingkungan alam dan kehidupan

3. Bidang Axiologi
a. Bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah maha sumber nilai semesta yang menciptakan dalam makna dan wujud: nilai hokum alam dan moral
b. Subyek manusia dapat membedakan secara hakiki maha sumber dan sumber nilai dalam perwujudan: Tuhan Yang Maha Esa dan AgamaNya sebagai maha sumber nilai kemestaan; alam semesta dengan hukum alamnya sebagai sumber nilai dalam makna sumber kehidupan kehidupan, sumber keindahan bagi makhluk-makhluk hidup termasuk manusia; Bangsa dan sosio-budaya; Negara dan system kenegeraan; dan kebudayaan
c. Nilai dalam kesadaran manusia
d. Manusia dengan potensi martabatnya
e. Martabat kepribadian manusia yang secara potensial integritas dari hakikat manusia sebgai makhluk individu.
f. Mengingat maha sumber nilai adalah Tuhan Yang Maha Esa dan subyek manusia dengan potensi martabatnya yang luhur yakni budi nurani, manusia secara potensial mampu menghayati dalam makna beriman Kepada Tuhan Yang Maha Esa Menurut agama dan kepercayaannya masing-masing
g. Manusia sebagai subyek nilai memikul kewajiban dan tanggung jawab atas bagaimana mendayagunakan nilai, mewariskan dan melestarikan nilai dalam kehidupan kebudayaan dan kemanusiaan.
h. Eksistensi fungsional manusia ialah subyek dan kesadarannya
i. Seluruh kesadaran manusia tentang nilai tercermin dalam kepribadian dan tindakannya, amal, kebajikannya.

B. Pancasila Sebagai Sumber dan Dasar Moral
1. Filsafat Negara Pancasila
2. Asas-asas dan nilai-nilai dasar ontologis, epistemologis dan axiologis Pancasila
3. Wawasan nasional masyarakat dan negara
4. Wawasan (nasional) kependidikan, terutama tripusat pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat; tanggung jawab kependidikan oleh keluarga, masyarakat dan Negara/pemerintah;
5. Wawasan Manusia Pancasila, yang perwujudannya ialah manusia Indonesia seutuhnya (MIS), manusia berkualitas

C. Tujuan Pendidikan Pancasila
1. Rumusan formal konstitusional dalam UUD 1945 maupun dalam GBHN dan Undang-undang Kependidikan lainnya berlaku, adalah tujuan normative. GBHN 1983 merumuskan tujuan pendidikan nasional kita sebagai berikut:
“Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila, bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, Kecerdasan, kecerdasan dan ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”

2. Penjabaran Konsepsional







D. Sistem Pendidikan Nasional Pancasila
Keseluruhan system (Sumber dan dasar moral filsafat pendidika, tujuan pendidikan pancasila, kebudayaan nasional dan kurikulum serta teori pengetahuan) menampilkan diri dalam perwujudan system pendidikan nasional pancasila yang wajar dibina dengan dijiwai filsafat pendidikan pancasila. System kependidikan nasional sebagai kelembagaan nasional pembinaan MIS, dengan kebijaksanaan yang mantap menjamin pewarisan dan pelestarian system kenegaraan dan budaya berdasarkan pancasila.

Daftar Pustaka:
Syam, Muhammad Noor. 1986. Filsafat kependidikan dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

harap anda mengisi komentar